Tampilkan postingan dengan label #Masalah_Ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Masalah_Ayah. Tampilkan semua postingan

Catur, Renungan 19012019.

Oléh: Yusni Tria Yunda.

Dalam masa - masa penjualan lagi sulit, penghématan biaya operasional, tentulah harus dilajukan secara éfisién. Hal ini terutama dialami oléhku pada saat bekerjasama di Pengobatan Tradisional, yang mana aku menjadi salahseorang tenaga pemasarnya secara offline.

Ménu - ménu makanan yang cukup mengenyangkan, namun mempunyai HÉT yang lebih kecil daripada ménu - ménu makanan lainnya pada saat sama, sering kukonsumsi di tempat - tempat penyebaran (spreading) brosur kertas iklan pengobatan.

Konsumsi atas aytem - aytem hal makruh, roko, oléh sebab harus melakukan penghématan biaya operasional, kulakukan dengan cara membeli dan mengkonsumsi tembakau beserta kertas papiernya, sebagai yang diutamakan. Adapun apabila lagi ada lebih anggaran, maka membeli dan mengkonsumsi roko pabrikan secara écéran, dapatlah dilakukan.

Konsumsi makanan padat pada pagi dan  siang hari, sering kubeli bala - bala, batagor, serta makanan ber-HÉT terjangkau nishob saat itu, daripada membeli kuliner jadi dari pedagang makanan siap saji. Tentu, bajétnya kan minim, sedangkan keperluan atas aytem - aytem harus dibagi - bagi secara bijakdana dan bijaksana.

Sehubungan belum signifikannya hasil dari sistem bagi hasil dari kerjasama usaha yang kulakukan pada saat itu (2017/2018), maka, meskipun aku telah melakukan penghématan habis beneran, tetap saja aku ta dapat melakukan kiriman nafkah hadhonah yang memadai kepada kedua anak - anak kandungku, yang Hak Asuhnya lagi di tangan Ibu Kandungnya, mantan istri pertamaku.

Apakah hal ini ta menggelisahkanku?.

Tentu saja aku gelisah, dan oléh sebab itu, maka akupun mencoba menambah cara mendapatkan sumber pendapatan dari séktor lain diluar bidang kerjasama jasa memasarkan pengobatan tradisional, namun dilakukan pada saat yang bersamaan dengan bidang jasa tersebut.

Aku mencoba berjualan pula. Aytem késéd majun adalah yang sering kupilih guna diperdagangkan. Dan tentunya, dalam kondisi nishobku saat itu, ini ra mudah mengalokasikan dan mengadakan aytem késéd pada saat itu.

Secara téhnik operasional pengadaan, aku harus berjalan kaki di antara 2 (dua) kecamatan guna mengadakan suplaynya. Kalau aku naik angkutan publik, dana guna pembelian aytem akan berkurang sehubungan dipakai ongkos transportasi. Sedangkan kendaraan pribadi, sepéda, pada saat itu lagi dijaminkan kepada Pa Ustadz Amang, sehubungan aku hendak belajar ilmu ngajinya, namun belum mempunyai sejumlah uang yang cukup guna imbal jasa atas bimbingannya.

Kalau tenaga terkuras, itu jelas. Sebab, siangnya menyebar brosur secara berjalan kaki, dan malamnya belanja serta mengirim aytem késéd secara berjalan kaki pula.

Hal ini masih mending, sebab Abah Yaya Suhaya, pemilik aytem késéd sekaligus produksinya, memberikan keringanan sistem pembayaran secara angsuran. Down Payment secukupnya, dan sisanya dapat dibayar kalau telah ada Pos Kas yang memadai, ataupun kalau aytem tersebut telah laku terjual dan menghasilkan Laba Bersih yang memadai. Namun hal tersebut jarang terjadi. Seringnya aku justru membayar pelunasan atas sisa Hutang Dagang tersebut bukan dari hasil akad pembelian aytem tadi, melainkan dari jalur Pos Pendapatan Lain - Lain, yang mana bentuknya bisa merupakan pemberian - pemberian dari pihak - pihak lain (diluar pihakku sebagai pembeli, dan pihak Abah Yaya sebagai penjual), ataupun dari bagi hasil séktor jasa Pengobatan Tradisional.

Hal inilah yang justru sering terjadi pada pengalamanku, sehingga aku tiba pada suatu langkah membenarkan kesimpulan para `ulama tashowuf bahwa hakékat dari setiap rezeki yang dinikiki adalah dari Alloh, bukan dari hasil usaha kita.

Catur, Renungan 19012019.

Oléh: Yusni Tria Yunda.

Waktu ini, malam. Sholat Isya baru kudirikan. Aga terlambat. Sibuk melakukan percobaan - percobaan dengan Hand Phoneku. Prinsipnya, sih, harus bermanfaat, setiap aktiva yang lagi ada padaku. Dan telah beberapa belas hari dan malam aku melakukan aktivitas informatika ini.

Aktivitas lainnya?.

Ya, inilah yang kini lagi kupikirkan saat ini. Telaah tadinya hendak melakukan penggarapan selanjutnya dari percobaan membuat tampilan - tampilan bagi blogku. Namun banyak hal membuatku berpikir sejenak, bahwa ini belum tentu dapat menjadi suatu jalan muamalah yang memadai dalam waktu dekat ini. Sedangkan aku telah menjalani durasi kehidupanku pada 3,5 taunan ini dalam status duda, tanpa pos pendapatan yang memadai, sedangkan pos pengeluaran, tentunya selalu ada.

Apakah aku ta melakukan usaha - usaha lagi?.

Banyak. Aku telah melakukan banyak percobaan dan prakték usaha, baik secara sendirian, ataupun bekerja sama secara sistem bagi hasil. Dan hasilnya, ga pernah lebih dari cukup. Maka, jangankan berbicara langkah - langkah pelunasan hutang - hutangku, sedangkan sumber pendapatan saja ta memastikan titiknya ada di mana. Bukan maksud menganggurkan diri, sebab setiap haripun aku bekerja, hanya saja berbéda dengan cara - cara kerja yang pernah kutempuh selama sebelum 3,5 taun yang lalu.

Aku ga menyalahkan peristiwa perceraianku dengan perempuan - perempuan yang pernah menjadi istriku, sehingga membuat kehidupanku selalu kembali berantakan, harus menata ulang, berantakan lagi, menata lagi. Kalau bosan, sih, tentunya sering mengalami.

Itulah pula maka, pada sejak taun tengah taun 2015 hingga taun 2018, kegiatan - kegiatan muamalahku banyak merambah berbagai séktor, dari mulai berdagang écéran, melakukan sistem konsinyasi, bermitra dengan perusahaan yang telah "éstablish", serta dengan beberapa usaha perorangan, juga bekerja dengan sistem gaji, semuanya kulakukan pada masa - masa itu. Namun, nishob rata - rata ta pernah dapat kucapai.

Banyak variabel yang membuatnya demikian, dan variabel kondisi psikologis, seperti status pernikahan serta posisi berkeluargaku, bukan termasuk salahsatu yang menentukan langsung terhadap kelancaran ékonomi. Hanya saja, secara motivasi serta kenyamanan psikis, mémang sangat berpengaruh. Ibaratnya bermain catur tanpa Perdana Menteri (Ster), sementara lawan mempunyai formasi bidak catur yang lengkap. Sangat ta seimbang.

Dikurangi lagi kekuatan itu dengan ta pernah tuntasnya setiap menjalani prosés dalam bidang - bidang usaha. Artinya, tulang punggung perèkonomian diriku benar - benar dirapuhkan di luar dan di dalam, secara psikologis, dan secara ékonomi.

Apa yang salah?.

Dulu sempat kuberpikir bahwa keadilan dalam bermuamalah perlu ditegakkan. Pemahamanku seperti ini: kalau di suatu tempat telah ada temanku (sesama pedagang), yang telah_lagi berjualan di titik itu dengan mengusung aytem yang sama ataupun sejenis dengan aytem yang kuperdagangkan, maka aku lebih memilih jalan tengah, dengan salahsatu dari beberapa kemungkinan berikut.

Apabila posisi permodalan ataupun sistem jual beli yang ditawarkannya kuat kujalankan, maka aku ta segan membeli produk - produknya, lalu menjualkannya di tempat - tempat (titik - titik) lain, yang mana tida atau belum digarapnya, dan kami berkoordinasi terlebih dahulu mengenai hal tersebut.

Dengan demikian, akulah yang menjadi nomaden, berpindah - pindah titik penjualan. Dalam prosés tersebut, tentunya waktu dan konséntrasiku dikeluarkan cukup banyak, dalam suatu adaptasi baru, dan baru lagi. Belum lagi pengukuran - pengukuran terhadap pos - pos biaya, terutama Biaya Operasional dan Biaya Susut, yang mana pada saat - saat itu seringkali muncul terlebih dahulu sebelum penjualan terjadi. Dan kalaupun terjadi penjualan (barang persediaan yang kustok laku), namun nilai Laba Kotornya selalu tergerus banyak oléh sebab prosés - prosés tadi.

Mengaji rasa orang lain, sesama rékan profési, inilah yang pertama kali selalu kuperhatikan. Ta memberi, namun setidanya kehadiranku ta mengurangi bagian garapan sumber rizqiynya. Begitu prince-civil_ku.

Kalau dalam bidang perdagangan independén, hal ini berlangsung hingga ahir taun 2016 Maséhi. Sebab, pada taun 2017 hingga pertengahan taun 2018, kulepaskan penggarapan kegiatan perdagangan, dan mulai fokus kepada sesuatu yang transéndéntal, juga berkaitan dengan pembenahan aspék psikologis dan réligiusitas.

Pada taun 2017 - 2018_pun, di tengah - tengahnya kuisi dengan beberapa kegiatan jasa, yaitu bekerjasama dengan beberapa usaha perorangan, terutama bidang pengobatan tradisional. Aku memposisikan diri dalam bagian memasarkan.

Adapun hasil yang kudapatkan secara akuntansi dari séktor ini, mémang sangat sulit guna dibukukan, oléh sebab prinsip mengaji rasa yang serupa perdagangan tadipun kuaplikasikan di dalam séktor ini. Kalau ada pengunjung yang datang (terlepas dari jadi atau tidanya berobat), mayoritas adalah yang bukan dari jalur yang kumarketingi, sehingga akupun merasa ta berhak guna turut meminta bagian atas jasaku, yang baru saja dilakukan.

Dalam hal inilah, aku mendapat adanya kebenaran atas pendapat salahseorang seniorku, mengenai adanya indikasi riba dalam sistem gaji, bahwa masih mending seperti aku ini yang menjalankan sistem bagi hasil, terutama apabila dalam situasi usaha lagi seperti tadi: ga ada pendapatan khusus yang dari jalurku. Meskipun, aku sering bertanya dalam do`aku: kenapa Alloh belum menghadirkan rezeki yang memadai bagiku dari séktor - séktor tersebut?.

Akan tetapi, kelegaanku adalah bahwa sangat beruntung, sebab aku ga digaji, sedangkan ongkos sehari - hari, konsumsi, dan tempat, ditanggung oléh pemilik usaha pengobatan. Apa jadinya apabila aku menjalankan sistem digaji?, tentu akan sangat malu, meskipun umumnya: sistem itulah yang sangat dimaklumi oléh orang - orang. Ya, pada nishob usaha tertentu, mungkin métodeu mengambil rataan gaji dari perolèhan tiap - tiap bidang kontribusi, dapat dan wajar dilakukan. Namun tentunya ta semua usaha berposisi nishob yang setara dalam waktu yang sama.

Dan akupun tetap merasa ditantang oléh pendukung pendapat bahwa sistem gaji adalah riba. Maka, aku selalu pertahankan pengajuan - pengajuan sistem bagi hasil, dan tentunya hal ini menambah hutang, oléh sebab: sebelum ada hasil, beberapa keperluanku yang harus dipenuhi, diperolèh dengan cara diberi ataupun ngutang terlebih dahulu, baik kepada pelaku usaha yang bermitra denganku itu, ataupun kepada pemilik produk yang mana aku hutang kepadanya.

Apakah aku nyaman bertahan dengan pola seperti itu?.

Pada saat itu, anak - anak kandungku, diberi rezeki oléh Alloh melalui usaha Ibu Kandungnya serta néné dari pihak Ibu Kandungnya tersebut. Dan oléh sebab akupun lagi belajar dzikir, aku selalu menanggapi setiap gejala, baik kelemahan ataupun kelebihan dari makhluk - makhluk, sebagai ketetapan Alloh yang tentunya mempunyai maksud - maksud sangat baik dengan adanya itu semua. Bukan guna mendzolimi makhluk - makhlukNya.

Maka, hal pertama yang kusimpulkan dari fénoména lemahnya posisi ékonomiku sebagai seorang Ayah bagi anak - anakku, adalah tantangan psikologis réligius, yang mana aku dilatih guna peka menghubungkan segala sesuatunya dengan Alloh, bahwa ta ada daya dan upaya tanpa izin dan dengan kehendakNya. Hal inilah yang membuat géngsiku terbuang jauh, dan pada tempatnya. Mantan istri, bukanlah sosok pesaing bisnis, juga bukanlah perebut perhatian anak - anakku, melainkan ialah sebagai partner, yang mem_back-up ku di saat produk produk kami ini ta mampu kutanggungjawabi secara keseluruhan keperluannya.

Setelah prosés meluruhkan segala géngsi yang berkenaan dengan finansil-keayahan, aku meluruhkan géngsiku yang berkaitan dengan finansil-inteléktual. Dalam setiap pergaulan, aku ta pernah menyembunyikan idéntitas - idéntitas akademikku, dan malas berpura - pura pintar, apalagi berpura - pura bodoh.

Apa adanya: kalau ga tau, maka bertanya, kalau ditanya, maka menjawab, meski kadang kala sering pula aku menjelaskan hal yang ditanyakan orang lain (kelak, pada taun 2018/2019 ini, hal tersebut kusadari sebagai salahsatu éfék dari belajar dzikir, yang mana jiwa menjadi sangat peka, dan mengetaui pesan - pesan yang ta diperlihatkan oléh pihak yang memberi pesan. Semacam komunikasi bathin.). Dan sebenarnya hal ini telah terjadi pula pada taun 2017, yang mana aku berdialog dengan kucing (oléh anakku diberi nama: Luna), lalu menemukan inspirasi mengenai rékonstruksi terjadinya srjarah tulisan Mesir Kuno (Hieroglyph).

Intinya, sepanjang 3,5 taun ini, telah banyak hal dan pengalaman yang kualami, namun belum tersistematisasikan datanya. Juga berbagai pengetauan dan ilmu baru, yang ta pernah kudapatkan dengan métodeu - métodeu yang kuketaui sebelumnya. Setidanya, jejak - jejak postingan status dan fail - fail gambarku di akun Facebook kepunyaanku yang hendak kutunggalisasikan terahir ini, beberapa hal penting telah diinput di sana. Dan dibandingkan dengan di Blogger, saat itu aku mémang lebih aktif di Facebook.

... .

Memutar Balik: Fakta atau Bukti?.

Olèh: Yusni Tria Yunda.- pengguna Kartu_"Three", ya?.



1. PENDAHULUAN.

Terhadap fènomèna berkeliarannya visualisasi berètika di bawah standar nishob yang lagi berlaku di dalam suatu kalangan "come_unique_cate" yang dianggap sebagai suatu kerawanan dalam komunikasi moral, anak-anak usia menjelang baligh memerlukan suatu pedoman mètodeu dan tèknis, guna menanggapi fènomèna-fènomèna yang dianggap sebagai suatu 'a-simètrismeu'. Peduli tanpa pamrih dari pihak tertentu guna melakukan optimalisasi "count_role" terhadap mèntalitas generasi muda secara "come_fact" adalah suatu bentuk tindakan anti ribaisme di antara beberapa upaya sebagian partisipan sosial menghapuskannya sebagai suatu isme yang berbèda dengan ribaismeu. Ini yang menjadi masalah para Ibu, di samping Masalah Ayah (kalau masih saling mendampingi), namun kalau telah tiada saling mendampingi, itulah perpisahan.


Latar Belakang.

Gambar contoh: èfèk dari pekerjaan pemutaran-pemutaran posisi beberapa tèks berderajat bèda dèlta sudut merupakan bukti-bukti yang pada awalnya saling berpisahan.

Gambar yang terletak di atas langsung ini ("ibid._1") adalah hasil penyatuan dari beberapa partisipan piksel visual digital setelah sebelumnya penulis buat secara terpisah failnya.

Memutar_balikkan fakta adalah salah dalam tujuan yang berbèda dari tiada melanggar larangan Alloh, namun meninjau ulang bukti adalah kara lain, yang mana suatu hal bisa saja menjadi cara yang diperkatakan sebagai: 'kara'. Secara idèntitas hukum berbahasa, penulis cenderung menekankan unsur linguistik dari kata 'perkara', bukankah jarang terdengar pengingatan dari kata 'perhal',?, sebelum menyentuh apakah kara termaksud bisa menjadi tetap statusnya sebagai suatu hal kehalalan ataukah masih dalam tahap trans_isi makna melalui prosès pemutar_balikan cara meninjau data dan ataupun data-data sebelum para orang tua melakukan format.


Idèntifikasi dan Rumusan Masalah.

Setiap yang pernah berjumpa, niscaya akan mengalami perpisahan. Berpindah, maupun menyusut, adalah perpisahan dari suatu titik kesatuan (èntitas) ataupun keadaan yang asalnya berpadu, menjadi terserak dalam pecahan-pecahan yunit yang lebih kecil, sehingga secara èntitas nilai ahir menjadi lebih kecil daripada nilai awal. Hanya saja, mekanismeu terjadinya perpisahan termaksud adalah has, sehingga meski sama-sama mengalami perpisahan, namun setiap kejadian perpisahan berfènomèna nuansa kejiwaan yang tiada selalu akan sama. Dengan demikian, masalah yang telah dapat diketaui dalam kara ini adalah tiada perlu dipermasalahkan lagi, namun yang belum jelaslah yang perlu dipermasalahkan, olèh sebab: apa guna dari pekerjaan menjelaskan sesuatu yang telah jelas?.

Sepertinya a-priori terhadap sesuatu yang dianggap lagi jelaspun perlu diuji kembali, sengaja menggali makna-makna baru dari sesuatu yang telah ditemukan akan mendapatkan bentuk-bentuk pemaknaan baru. Tindakan pengujian dapat ditujukan guna menemukan cara-cara baru yang dianggap lebih optimal daripada cara-cara sebel "oom," nya?.

Mengisi ulang pulsa untuk nomer sèlulèr HaPè, misalnya yang dialami olèh penulis, ternyata bukan semudah pemikiran biasanya, melainkan ada beberapa kara inspirasi yang ditemukan di dalam prosès perjalanan tèknis mengisi ulang sebagaimana yang penulis tuangkan dalam gambar-gambar.



Tèknik Penulisan, tertuang di dalam gambar-gambar, beserta pekerjaan. Demikian pula maksud dan tujuan.


2. DASAR PEMIKIRAN.

Mèmang, setiap pemikiran manusia bisa saja berbèda, sehingga dimungkinkan bahwa dua pihak dan atau lebih akan menyimpulkan dugaan yang berbèda terhadap sesuatu kara yang sama. Perbèdaan yang muncul, kemudian menjadi bahan guna meninjau kekuasaan Alloh yang lagi ditemukan saling keterhubungannya sebagai suatu konèktisitas yang bergantung kepadaNya. Tapi namanya juga pemikiran, apabila konsumsi mèntal kurang sehingga melemahkan jiwa, bisa saja pemikiran menjadi malah terombang-ambing olèh sorongan nafsu syahwat yang memutar-mutar balik seperti jangka sorong, sehingga ketika mata melihat penampilan wanita sècksi langsung terbius kehilangan pemikiran yang sehat mengenai hakèkatnya Alloh menciptakan makhluk sèksi termaksud, hanya saja sanad tèorinya mungkin dari kata "sèxy" yang berkata dasar "sèx" bukan "sèct". Tapi dasar, itulah uniknya pemikiran.


3. ISI.

Tapi apabila percaya begitu saja terhadap suatu isi data kenyataan yang diberitakan olèh pihak lain, misalnya; 'itu ada perempuan yang seksi', lantas langsung berpaling di depan tapi melamunkan isi kesèksiannya di belakang, sebagaimana dulu sering penulis lakukan, artinya tiada tabayyun, itu taklid membutakan diri (bukan taklid buta). Semua setelah tanda uraian kata jamak dalam lirik lagu ini adalah contoh yang patut ditinggalkan olèh generasi yang lebih muda.

Maka upaya membuktikan benarnya suatu kabar kebenaran bukanlah berarti suatu kebetulan yang sama, seperti kara isi ulang pulsa yang penulis ajukan ini; menguji kebenaran antara petunjuk dengan kenyataan, yaitu menguji suatu status bukti guna ditinjau kenyataannya apakah dapat dinyatakan telah_lagi layak menyandang status baru sebagai fakta?.



Apabila suatu kara telah jelas kebenarannya, serta terkaji manfaatnya, maka dapat dilakukan. Tapi apabila kara termaksud tiada manfaatnya, apalagi jika terbukti lebih banyak mudhorotnya, lebih baik tiada dilakukan. Misalnya, kalau kesèksian perempuan telah terbukti dalam pandangan pertama, maka sebaiknya segera mengalihkan sudut pandang dalam melihatnya sehingga dapat memberikan sikap yang terbaik dalam isi pikiran yang melihatnya pada pandangan ke-dua yang tanpa sengaja dan seterusnya. Namun apa yang mau dibuktikan sebagai fakta apabila bukti yang akan diujikannya tiada?. Itulah maka diperlukannya siasat pembuktian.

Berikut adalah proses Pengumpulan Data yang Penulis Lakukan:


Dalam èkonomi, para pelaku perdagangan tentunya mengharapkan adanya prosès perpisahan yang cepat dan kontinyu (berkelanjutan) yang terjadi di antara Pos Stok (barang dagangannya) dengan aktivitas pengelolaannya, selama mèkanismeu perpisahan termaksud adalah melalui prosès jual_beli, bukan sebab hilangnya sebagian apalagi keseluruhan dari nilai isi Pos Stok yang lagi dipunyainya.

Melalui mekanismeu jual_beli, perpisahan yang dialami pedagang dengan sejumlah isi nilai Pos Stoknya akan menghasilkan Pos Kas yang bertambah, ataupun Pos Piutang yang meningkat, di satu pihak, sebagai kompènsasi atas perpisahannya dengan sejumlah nilai yang menjadi isi Pos Stoknya yang disebut sebagai: 'Harga Poko Penjualan'. Secara umum, gejala perpisahan melalui mekanismeu seperti ini disebut sebagai: 'laku' atau 'laris', yang dalam Bahasa Sunda disebut sebagai: 'pajeng' ataupun 'payu'. Mungkin dalam skup yang terbatas, fènomèna dari kejadian lakunya barang dagangan yang dijual olèh pedagang ini dapat menjadi suatu peristiwa, bagi dirinya sendiri maupun bagi kelompoknya yang terbatas pada aytem barang ataupun kelas barang tertentu, meskipun belum tentu berpengaruh sebagai suatu peristiwa pula terhadap kelompok aytem ataupun kelas barang lainnya, ataupun bagi pedagang lainnya.

Tetapi apabila membeli tanpa pertimbangan, bisa saja melupakan diri dalam tahap Kritik dalam "Processing Data", seperti "opcit._1" di atas.


Ini menjadi suatu peristiwa terbatas, apabila mèmang telah dapat dibuktikan kebenarannya sebagai suatu kenaikan status dari yang asalnya berstatus sebagai kejadian biasa saja menjadi suatu status peristiwa. Peristiwa terbatas yang pernah berlangsung di dalam pengalaman pedagang tadi, bisa saja mempunyai èfèk yang lebih dari sekedar mempengaruhi èksistènsinya, mungkin saja dengan adanya suatu catatan atas suatu periodeusasi laporan penjualan yang telah dialami olèh pedagang yang barangnya laku tadi, berdampak pula terhadap "link-link" lingkungan lain, yang juga pergerakannya dalam bidang yang sama meskipun berlèvel berbèda. Potènsi guna melakukan pengamatan lanjutan terhadap fènomèna seperti ini da-



pat muncul apabila terdapat data-data yang cukup memadai guna mengolahnya menjadi suatu peristiwa bersejarah yang berlaku di kalangan suatu komunitas èkonomi.


Catatan penjualan pedagang cenderung kurang ceria apabila sulit mengalami perpisahan melalui mèkanismeu jual_beli ini apabila berlangsungnya kurang sering ataupun hanya sedikit yunit stoknya yang terjual.


Band_ingkan gambar catatan lirik ini dengan 👣 👣 YT. Telah ada variasi tambahan, yang merupakan rèkayasa digital terhadap gambar yang lebih baru sebagaimana yang terèkam jejak èditan bukti tertulis ini antara yang disuarakan dengan yang dituliskan.


Tetapi apabila membeli suatu aytem dan menggunakan aytem yang dibeli tanpa pertimbangan, bisa saja melupakan diri dalam tahap Kritik dalam "Processing Data", seperti "opcit._1" di atas.

Membeli pakèt kuota internèt secara ècèran, pada suatu kondisi dan situasi tertentu, bisa jadi lebih èfisièn bagi yuser daripada membeli pakèt yang lebih besar kapasitasnya. Selain itupun, bentuk dari kemasan "voucher" yang disediakan olèh perusahaan sèlulèr ini memudahkan yuser guna melakukan mobilitas ke manapun dan di manapun tanpa takut kehilangan masa aktif dari pakèt yang belum diaktivkannya, sebab, guna mengaktifkan pakèt dari vocer jenis ini perlu digosok terlebih dahulu guna membuka tabir_silver yang belum terungkap, sehingga apabila belum diketui olèh yuser sèrial_nomer vocer yang dibelinya termaksud, bagaimana mungkin dapat diaktifkan?, dan selama belum diaktifkan pakètnya tentu saja belum melakukan staring. Bagaikan anak-anak yang membeli roko namun tiada menyulutnya, bagaimana dapat menyulitkan merèka sedangkan selama belum dihisap secara aktif apakah akan masuk nikotinnya ke dalam tubuh?.

Ini menjadi suatu keunggulan dari vocer_gosok yang secara nominal dijual ècèran.


Apabila Tahapan Kritik telah dilampaui, meskipun bukan berarti bahwa itu adalah Kritik Terahir, maka dilakukankah Kritik terhadap Kritik, atau suatu analisa, yang mana apabila terdapat keunikan ataupun kejanggalan, dapat menjadi suatu bahan interprètasi yang berguna bagi rèkomèndasi kelak. Dengan demikian, yang berminat bolèh mencobanya, guna menyelaraskan pembuktian.


4. KESIMPULAN DAN RÈKOMÈNDASI.


5 pekerjaan dalam Prosès Isi_Ulang Kartu_3, dapat diselesaikan hanya dengan menjalankan tèhnik 1 ketukan sebagaimana gambar ini (tepat di atas). Rèkomèndasi; A, maupun B, disesuaikan situasi dan kondisi yuser.

Demikian pengalamanku menggunakan Kartu_"Three", dan keponakanku, (#Abang) Bismi Ramadana, melakukan digitarisasi secara digital ini.

Masturbasi: Apik_kasih Tèhnik.



Mètodeu Sejarah yang diaplikasikan, menjadi suatu modèl dalam tahap interprètasi dalam usaha pemecahan hati membatu, ternyata dapat juga dipergunakan pada bidang pemasaran rasa pena_saran, yang memerlukan tèhnik khusus. Bagi penulis sebagai laki-laki yang lagi menduda, saat ini (05/09/2018) penulis mendapatkan simpulan pembangun prinsip bahwa "must_tour_bass_see" (masturbasi) sangat bisa dipilih sebagai soul_lust_see (solusi)kongkrèt yang berlaku secara yuniversal melalui aktivitas olèh tubuh, yang sangat mungkin dilakukan ("available")secara mandiri sebagai pilihan terbaik di antara beberapa pilihan pelampiasan lainnya dari keperluan birahi yang berèsiko buruk, namun dengan syarat;

1. Pengendalian niat yang benar sebagai "password*" pertama; semata-mata karena Alloh, guna menghindari *laranganNya yang lebih nyata jangan dilakukan(larangan mendekati zina, sebab apabila terlanjur berzina, akan menyebabkan kesulitan-kesulitan di kemudian hari, terutama bagi diri sendiri sebagai pelaku, dan pasangan zina, pleus pihak-pihak wali dari pelaku perempuan, serta idèntifikasi masalah keturunan (apabila berhasil terbuahi)),

2. Pengendalian pikiran dan konsèntrasi pada saat melakukan jangan dipersèpsikan kepada visualisasi langsung (directly visualization) atas sosok maupun ditèil dari sumber rangsangan (stimulus) ghoir_roh (di luar diri), sebagaimana yang biasa terpraktèkkan dalam pemahaman cara-cara konvènsional dalam tèhnik masturbasi ortodoks, pengalihan "link_source" ke titik ekskavasi dari kerawanan gelombang libido yang lagi dihadapi perlu diaktifkan, dan tentunya memerlukan latihan tersendiri agar mampu mengarahkan kendali rèflèks siri atas diri sendiri,

3. Komunikasi bathin secara spèsifik dengan Alloh, apabila posisi konèktor mèdiasi jahar lagi mengalami kepasifan dalam tujuan intruksional memohon izin guna mengkopi_pèist dan èditing dari sumber data_base yang telah terèkam dalam mèmori internal, yang mana tahap ini dilakukan setelah "password" yang tepat diisikan secara khofiy dan jahar yang nyata,

4. Fail imaji yang akan diunduh bukan untuk diabadikan maupun dilanggengkan selamanya, melainkan guna diabdikan selama prosès masturbasi berlangsung saja, yaitu dalam fore_play dan èkspansi èditing "pen_at_trust_see" (pènètrasi) yang bolak-balik (qolbun) menggunakan tangan sendiri sebelum mencapai klimaks yang biasa disebut sebagai: "orgasmeu", dengan format èkstènsiyen khusus, seperti taqdir.exe yang telah dialami,

5. Sebagai "view" bagi latar aktivitas sebelum pengisian acara solo_karir masturbasi dimulai, ling sumber haruslah berupa bagian-bagian dari kenyataan perbuatan yang secara nyata pernah dialami olèh subjèk, terhadap mana partisi-partisi dari kenyataan termaksud telah disimpulkan sebagai perwujudan keikhlasan diri dalam menerima dan menjalankan takdir dari Alloh, baik yang berupa;

5.1 Perbuatan-perbuatan meninggalkan larangan-larangan dari Alloh, yang dilakukan secara ikhlas karena Alloh,

5.2 Perbuatan-perbuatan yang dilakukan secarà ikhlas dalam melaksanakan perintah Alloh,


6. Dengan memasukkan poin 5 ke dalam imajinasi masturbasi, prosès èditing terhadap masalah masa kini dapat dinyatakan telah melakukan pengunduhan perjalanan ("tour") masa lalu secara haq dan bernishob jelas, sehingga yang asalnya ghoror maupun bolèh, bisa menjadi harus ("must") dipisahkan tersendiri dari antara kara-kara lainnya yang jelas-jelas dilarangNya, sebagai bas ("bass") dari suatu kebenaran mètodeu melalui tèhnik trans_è-ling yang betul,

7. Maka subjèk akan merasa kepasrahannya di hadapan kehendak (irodat) Alloh sebagaimana data-data yang disajikan dalam fail unduhan "sent"_siri, adalah sama-sama dan sama sènsasi salamnya dalam pikiran dan rasa, yaitu: bagaikan seromantis diri saat ditelanjangi dalam situasi keterangsangannya sang suami di hadapan istri sahnya, dan begitu pula sebaliknya: seperti rasa istri-istri yang pasrah, namun penuh gairah, siap melayani suami sahnya tercinta dalam kondisi merèka sama-sama telanjang di dalam suatu rongga ruangan bathin yang mèmang berhak.

Selanjutnya...

lainnya lihat terjemahan 😭.
___
Suntingan-1: Pada hari yang masih sama, pada kata: tèhnik (asalnya belum dilingkan ke alamat virtual tertentu, dilakukan penyuntingan ini agar terkonèksi langsung dengan mengklik kata tèhnik dalam tèks yang diwarnai), dan istri-istri (asalnya: para istri).

Berikut adalah sejarah dari 'Jalan-jalan M' yang telah penulis tempuh sebagai ditèil dari pekerjaan suntingan-1 yang  dimaksud;

Tahap-1:


 Tahap-2:


Tahap-3:

O
..

Tahap-4


Tahap-5:


Tahap-6:


Tahap-7:


Tahap-8:


Tahap-9:


Tahap-10


Tahap-11




Hijrah (Stand_Essai) : PGHB_C2`



This is an #"Ome" Sampling, writen by : Yustria.

#PLU ("Pangaos Luar Usaha" as Price Look Up) #DMR_2


#SULM_1_1' ;
 “Prolog Ayah Abang (1)”  (attached from https://www.facebook.com/search/top/?q=Yusni+Tria+Yunda&init=public ) as primarly source_1.
 



#SULM_1_2' ;

 “<…> Draft : An A List is ; dekonstruksi dan prince civil
Kondisi : meminjam sebutan tanpa nama fiktif
Ilustrasi : pada track 3 : Sale Out Our Pro duck
Bagi ayah hal semacam itu adalah suatu dominasi dengan efek domino, di mana jika ada rumah tetangga yang punya utang terhadap salah satunya angkanya akan tidak tetap karena pengaruh kurs valas yang turun naik, sementara pengendalian berada pada teori-teori yang beliau-beliau namakan hokum pasar. Begitulah, beliau-beliau yang punya teori, beliau-beliau mengajak para tetangga mempraktekkan teori-teori mereka, sedangkan yang diuntungkan tentu saja beliau-beliau sendiri yang punya hak mencetak mata uang wajib. Padahal demokrasi seharusnya tidak begitu, hal seperti itu membuat rumah-rumah tangga bagaikan kerbau dicocok hidung, terserah pada bapak dan papa. Inilah yang membuat anak-anak bapak dan papa lebih sejahtera daripada anak-anak di blok kita. Lihat saja penampakkan kemegahan-kemegahan itu pada film-film buatan papa dan bapak, “wah hebat”, begitu kesannya. Tidak tahu mereka itu bahwa hal tersebut semua dibangun atas dasar manipulasi yang menyalahi hukum demokrasi bapak dan papa itu sendiri <…>”[1]https://www.facebook.com/notes/yusni-tria-yunda/prolog-ayah-abang-1/408689886501/

  Ibid._@-2


_ _ _ #
Eta "doing" hartosna nuju, atanapi processing / in during process. Teu nganggo "will" (seja_bade (mi) <---> erek (mid, mas)) samemeh "doing. "contiunues tense" atanapi kumaha konteksna ieu rupaning "fi'il"<...>?.

 #SULM_1_3' ;



   Ibid @-3 : attached from https://www.facebook.com/search/top/?q=Yusni+Tria+Yunda&init=public /  <...> as primarly_source raw_material_1 of this picture wi/ app.microsoft_paint as "pakarang" in editing process.


“Pasti kau akan bertanya, jadi bagaimana seharusnya ayah?. Aku tidak akan mengatakan harus begini harus begitu, tapi aku akan melakukan penjajakan. Agar lebih mudah sekarang kumpulkan teman-temanmu, kita praktekkan bagaimana demokrasi itu di sini, di rumah ini. “Baik ayah”, ujar abang. Dia pun bergegas keluar rumah, mengetuk pintu-pintu rumah para tetangga untuk mengajak anak-anak mereka berkumpul di rumahku. Ternyata anakku begitu semangat, pukul 14.00 rumahku dimasuki oleh banyak anak-anak, bukan hanya blok rumahku saja yang diundang, melainkan anak-anak seluruh rumah yang ada di perumahan ini diundangnya, tak ketinggalan anak bapak dan anak papa.
Maka seminar demokrasi pun ku gelar. Selamat dating kawan-kawan anakku di rumah yang sangat sederhana ini, di kerajaan ini. Aku raja di sini dan kalian kuundang untuk berlatih mempraktekkan apa itu demokrasi aplikasi pada mata uang, ujarku sambil berdiri. Ini demokrasi bukan ala papa atau bapak, tapi demokrasi universal (you and I version all).[2]

"#_ _ _ _
Oke, 'wi wiil doing as soon es possible" 
may be this ones #;
 
Op.Cit @-ibid._@-2 : attached from https://www.facebook.com/search/top/?q=Yusni+Tria+Yunda&init=public /  <...> as primarly_source raw_material_1 of this picture wi/ app.microsoft_paint as "pakarang" in editing process of #revolution.
#SULM_1_5' ;
Ibid @-2' : attached from https://www.facebook.com/search/top/?q=Yusni+Tria+Yunda&init=public /  <...> as primarly_source raw_material_1 of this picture wi/ app.microsoft_paint as "pakarang" in editing processing from secondary_source produce_material of this history picture's source :


'haw eubout yu?".

_ _ _#


#SULM_1_6

Abot memang, "namun' cobi upami ngetik ti cara emutan Sunda ka aksara laten ku Basa Inggris, ieu langkung about moal upami teu aya pakarangna?.

 Sumber : dokumentasi pibados

perhatoskeun nu digarishandapan warna beureum, kalih nu bulao. Ieu nu masihan pitunjuk seja bade kumaha mang_aos_anna janten "price"?.

 #_ _ _ _

:\\ Rencana dialog #Abang (Zihni dan jawaban dengan #Masalah_Ayah (heart to heart).
Sebagai custom, masalah yang sering dihadapi dalam aktivitas berlinguistik, terbiasa "English" ke "bukan pengguna English sebagai bahasa utama" ; lafal pengucapan menjadi minoritas, English tertulis menjadi dominan.

Apakah hal ini jadi masalah?.
Ya, itu penghambat kemajuan.
Dalam bidang apa?.
Banyak bidang penting #Essai_2 untuk "employee" mungkin lebih sulit meningkatkan atau meraih pasar yang lebih baik, sehubungan dipersyaratkan untuk "English" dalam lingkungan yang mengglobal termaksud. Untuk "enterpreneur", tuntutan mereka terhadap para karyawan untuk "English" tersebut 'english' adalah bukan keinginan diri mereka sendiri, melainkan pangsar pasar yang mengkondisikan begitu terhadap perusahaan yang hendak menembus pasar global.

Jika kondisi demikian, tuntutan perusahaan memang saling ketergantungan dengan aturan tidak bertulis di (...)
Jawab : "kancah pasar bebas".



 #SULM_1_4' ;


[2] Ibidem



____
:| English: (Google Translate).  
|
 . W330/H296 |   | .

____
:| English: (Google Translate).  
|
 . W330/H296 |   | .

Migration (Stand_Essai): PGHB_C2`



This is an # "Ome" Sampling, writen by: Yustria.


#PLU ("Pangaos Overseas" as Price Look Up) # DMR_2



# SULM_1_1 ';

 "Daddy's Prologue (1)" (attached from https://www.facebook.com/search/top/?q=Yusni+Tria+Yunda&init=public) as primarly source_1.





# SULM_1_2 ';


 "<...> Draft: An A List is; deconstruction and civil prince

Condition: borrow a name without a fictitious name
Illustration: on track 3: Sale Out Our Pro duck
For fathers such a thing is a dominance with a domino effect, where if there is a neighboring house that has a debt to one of them the number will not be fixed because of the effect of a fluctuating foreign exchange rate, while the control is in the theories he-he calls the market law . That is, he-he who has a theory, he-he invited the neighbors to practice their theories, while those who benefited of course he-he himself has the right to print compulsory currencies. Even though democracy should not be like that, things like that make the houses like buffalo matched by the nose, it's up to the father and father. This is what makes the father and father's children more prosperous than the children in our block. Just look at the appearance of the splendors in the films made by daddy and daddy, "wow great", he said. They do not know that this is all built on the basis of manipulation that violates the law of democracy, father and father itself <...> "[1] https://www.facebook.com/notes/yusni-tria-yunda/prolog-ayah- brother-1/408689886501 /


  Ibid._@-2


_ _ _ #

Eta is "doing" the destination, but processing / in during process. He calls "will" (seja_bade (mi) <---> erek (mid, mas)) samemeh "doing." Contiunues tense "atanapi kumaha contextna ie rupaning" fi'il "<...> ?.

 # SULM_1_3 ';





   Ibid @ -3: attached from https://www.facebook.com/search/top/?q=Yusni+Tria+Yunda&init=public / <...> as primarly_source raw_material_1 of this picture wi / app.microsoft_paint as " pakarang "in editing process.



"Surely you will ask, so how should you? I won't say that this should be the case, but I will do an assessment. To make it easier now to gather your friends, we practice how democracy is here in this house. "Good daddy," said brother. He rushed out of the house, knocked on the doors of the neighbors' houses to invite their children to gather at my house. It turned out that my child was so excited, at 2:00 my house was entered by many children, not only was my house block invited, but he invited all the children in the housing, not to miss the father and father's children.

So I also hold a democratic seminar. Welcome to my friends in this very simple house, in this kingdom. I am the king here and I invite you to practice practicing what application democracy is for currencies, I said as I stood up. This democracy is not like father or father, but universal democracy (you and I version all). [2]

"#_ _ _ _

Okay, 'wi wiil doing as soon ice possible'
may be this ones #;


Op.Cit @ -ibid ._ @ - 2: attached from https://www.facebook.com/search/top/?q=Yusni+Tria+Yunda&init=public / <...> as primarly_source raw_material_1 of this picture wi / app.microsoft_paint as "pakarang" in editing process of #revolution.

# SULM_1_5 ';
Ibid @ -2 ': attached from https://www.facebook.com/search/top/?q=Yusni+Tria+Yunda&init=public / <...> as primarly_source raw_material_1 of this picture wi / app.microsoft_paint as "pakarang" in editing processing from secondary_source produce_material of this history picture's source:


"haw eubout yu?"


_ _ _ #



# SULM_1_6


Abot indeed, "but 'hobbies have typed the way of the Sundanese emotion, the latent character of the English Base, which is the name about moal upami teya pakarangna ?.



 Source: pibados documentation


perhatoskeun nu is colored beureum, kalih nu bulao. Is there still a pointer as soon as it bade kumaha mang_aos_anna janten "price" ?.


 #_ _ _ _


: \\ #Abang dialogue plan (Zihni and answer with #Medur_Ayah (heart to heart).

As a custom, problems that are often encountered in scientific activities, are used to "English" to "not English users as the main language"; pronunciation pronunciation becomes a minority, written English becomes dominant.

Is this a problem?

Yes, that is an obstacle to progress.
In what field?.
Many important fields # Essai_2 for "employee" may be more difficult to improve or achieve a better market, as required for "English" in the intended global environment. For "entrepreneurs", their demand for "English" employees is "English" is not their own desire, but the market share that conditions so for companies that want to penetrate the global market.

If this is the case, the demands of the company are indeed interdependent with rules not written in (...)

Answer: "free market arena".

# SULM_1_4 ';


[1] Attached as #directly internet source's link from https://www.facebook.com/notes/yusni-tria-yunda/prolog-ayah-abang-1/408689886501/


[2] Ibidem


Bala - bala.

Oléh: Yusni Tria Yunda. Di Kota Bandung (#Bandung_1), HÉT Bala - bala hingga tanggal postingan ini masih dapat dibeli seharga Rp. 2.000...